Kamis, 17 Desember 2009

kanker paru





KANKER paru tak hanya dipicu oleh rokok saja. Memang selain perokok aktif, perokok pasif pun berisiko terhadap kanker ini. Faktor gender dan hormon juga bisa menjadi penyebabnya.
Dunia jurnalistik beberapa waktu lalu kehilangan salah seorang wartawan terbaiknya. Perempuan yang bekerja di salah satu surat kabar terkemuka tersebut telah lama mengidap kanker paru yang akhirnya merenggut nyawanya. Yang menjadi pertanyaan, wanita yang dikenal baik dan ramah oleh sesama jurnalis tersebut sama sekali bukan perokok.


Hubungan antara rokok dan kesehatan paru memang sejak lama didengungkan. Itu tak lain rokok tembakau mengandung lebih dari 4.000 zat kimia dan sebagian besar merupakan zat karsinogenik atau zat yang dapat menyebabkan kanker. Dua zat karsinogenik utama dalam rokok tembakau adalah nitrosamine dan polycyclic aromatic hydrocarbon.

Namun, sebenarnya rokok bukan satu-satunya penyebab kanker paru. Meskipun merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90 persen kasus kanker paru-paru pada pria dan sekitar 70 persen pada wanita. Semakin banyak rokok yang diisap, semakin besar risiko untuk menderita kanker paru-paru.

Ada lagi penyebab lain yaitu zat yang ditemui atau terhirup di tempat bekerja. Bekerja dengan asbes, radiasi, arsen, kromat, nikel, klorometil eter, gas mustard, dan pancaran oven arang bisa menyebabkan kanker paru-paru, meskipun biasanya hanya terjadi pada pekerja yang juga merokok. Sekitar 10-15 persen penderita kanker paru pada pria dan 5 persen pada wanita disebabkan oleh hal ini.

Perokok pasif atau orang yang ikut menghirup asap rokok yang berasal dari perokok dalam jangka waktu yang lama juga mempunyai risiko menderita kanker paru. Penelitian menunjukkan, perokok pasif ini mempunyai risiko menderita kanker paru 24 persen lebih besar daripada mereka yang tidak merokok.

Guru Besar Pulmonologi dan Ilmu Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Ernst Johannis Manuhutu SpP(K) mengatakan, penyebab kanker paru bukan hanya karena merokok, banyak faktor lain yang memengaruhi. ?Faktor gender dan hormon juga bisa menjadi penyebabnya,? tandasnya. Faktor lainnya, lanjut dia, misalnya polusi udara, terutama zat adenokarisinoma dan karsinoma sel alveolar. Namun, biasanya terjadi pada orang yang paru-parunya telah memiliki jaringan parut karena penyakit paru-paru lainnya seperti tuberkulosis dan fibrosis.

Gejala kanker paru-paru, kata Ernst, tergantung kepada jenis, lokasi dan cara penyebarannya. Biasanya gejala utama adalah batuk yang menetap. Penderita bronkitis kronis yang menderita kanker paruparu sering kali menyadari bahwa batuknya semakin memburuk. Dahak bisa mengandung darah. Bahkan, jika kanker tumbuh ke dalam pembuluh darah di bawahnya, bisa menyebabkan perdarahan hebat.

Gejala yang timbul kemudian adalah hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan dan kelemahan. Kanker paru sering kali menyebabkan penimbunan cairan di sekitar paru-paru (efusi pleura) sehingga penderita mengalami sesak napas. Jika kanker menyebar di dalam paru-paru, bisa terjadi sesak napas yang hebat, kadar oksigen darah yang rendah dan gagal jantung.

Ernst mengungkapkan, masa orang terkena kanker paru-paru ini adalah sangat lama yaitu sekitar 10-15 tahun. Jika sejak berusia 15 tahun orang sudah merokok, kemungkinan pada usia sekitar 35 atau 40 tahun orang itu menderita kanker paru-paru.

Diagnosis pada kanker paruparu dibuat berdasarkan jenis tipe sel, dan tanda-tanda cukup. Satu cara yang bisa digunakan adalah mengonsumsi antioksidan yang merupakan senyawa yang dapat menetralkan radikal bebas dengan jalan melindungi sel-sel tubuh, khususnya paru-paru. Namun, cara ini adalah jalan terakhir dan bukan pengobatan yang 100 persen menghambat atau mencegah penyakit kanker. Ini hanya untuk mengurangi risiko penyakit kanker.

Ada beberapa antioksidan yang dapat dikonsumsi yaitu vitamin A, C, dan E dalam bentuk food suplemen. Antioksidan ini melindungi paru-paru terhadap oksidasi dan kerusakan oleh fraktur (fr). Beberapa jenis makanan seperti kedelai, tahu, tempe, dan oncom juga mengandung senyawa genistein yang merupakan antioksidan dan antitumor kuat, yang dapat menstimulasi sistem imun. Mekanisme kerjanya adalah menstimulasi pulihnya sel-sel tumor menjadi sel normal, khususnya pada kanker paru-paru. Teh hijau yang mengandung bioflavonoid Epi-Gallo Catechin Gallat juga merupakan antioksidan terkuat yang aktivitasnya 10 kali lebih kuat daripada vitamin C.

Ada beberapa jenis pengobatan terhadap penyakit ini, yakni operasi, kemoterapi dan radiasi. Spesialis paru dari RSUP Persahabatan Dr Ahmad Hudoyo SpPD FCCP mengatakan, jenis pengobatan ini disesuaikan dengan jenis kanker, tingkat perluasan atau penyebarannya pada saat didiagnosis, dan keseluruhan kondisi kesehatan penderita.

?Untuk derajat I dan II biasanya operasi, sedangkan derajat III dan IV dapat dilakukan tindakan kemoterapi, radioterapi, kombinasi keduanya atau terapi target,? katanya.

Operasi merupakan tindakan pengobatan utama pada tahap awal kanker. Pasien yang tidak dapat menjalani operasi bisa beralih ke radioterapi. Tingkat kesembuhan penyakit kanker paru-paru masih sangat bagus jika masih pada tahap awal. Masalahnya, kanker sangat jarang terdeteksi pada tahap ini.

Kalau sel kanker sudah menyebar ke daerah lain, pilihan pengobatannya adalah kemoterapi dan radioterapi. Jika kanker menghalangi aliran udara utama, bisa digunakan laser untuk membekukan tumor atau tetap membuka aliran udara dengan sebuah stent atau tabung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar